Kenapa Crypto Turun Hari Ini? Bitcoin Jatuh ke $72.897 Didorong Likuidasi, Aliran Keluar ETF, dan Kelemahan Pasar

Crypto Turun

Jika Anda membuka chart pagi ini, mungkin jantung Anda berdebar kencang. Bitcoin kembali tersungkur, mencapai titik terendah dalam tiga bulan di level $72.897 atau sekitar Rp 1,22 miliar pada sesi volatile Selasa, 3 Februari 2026. Lalu, kenapa crypto turun sedrastis ini?

Jawabannya adalah gabungan beberapa faktor yang saling memperkuat, likuidasi besar-besaran, pelemahan ekuitas AS, dan yang paling terasa, arus keluar (outflows) dari ETF spot Bitcoin. Ethereum ikut terimbas, merosot hampir 10% ke sekitar $2.100 atau sekitar Rp 35,2 juta, diikuti oleh mayoritas altcoin dengan kerugian 5-10%. Pergerakan serempak ini sekali lagi membuktikan betapa sensitifnya pasar kripto terhadap dinamika leverage internal dan kondisi makroekonomi yang lebih luas.

Gelombang Likuidasi dan Efek Leverage

Data pasar dengan jelas menunjukkan bahwa posisi berleverase memainkan peran kunci dalam mempercepat penurunan Bitcoin. Menurut data derivatif, lebih dari $500 juta atau sekitar Rp 8,38 triliun posisi futures Bitcoin dilikuidasi selama gelombang jual. Leverage tinggi membuat trader rentan, di mana pergerakan harga relatif kecil saja sudah cukup memicu likuidasi otomatis, yang kemudian memperburuk momentum turun seperti efek domino.

Crypto Turun - Efek likuidasi

Setelah pasar AS dibuka, Bitcoin bahkan terjun tambahan $1.700 dalam waktu singkat, menghapus lebih dari $55 juta atau sekitar Rp 922 miliar posisi long hanya dalam dua jam. Dalam periode singkat nan mencekam ini, kapitalisasi pasar kripto total menyusut hampir $50 miliar. Bayangkan, itu seperti menguapkan nilai sebuah perusahaan besar dalam sekejap.

Tekanan dari Pasar Tradisional dan Aliran Keluar ETF

Penurunan kripto berjalan beriringan dengan pelemahan aset berisiko tradisional. Indeks S&P 500 turun mendekati 1.3%, mencerminkan pergeseran sentimen investor menuju penghindaran risiko (risk aversion). Sejarah menunjukkan, kripto cenderung bereaksi lebih tajam daripada saham dalam situasi seperti ini, dan pola itu terulang kembali.

Bitcoin Spot ETF

Pukulan berikutnya datang dari data ETF spot Bitcoin. Menurut CoinGlass, pada 3 Februari, ETF ini mencatat arus keluar bersih sekitar $272 juta atau sekitar Rp 4,56 triliun. Hanya dana BlackRock’s IBIT yang menjadi pengecualian dengan inflow sekitar $60 juta, sementara dana lainnya terus dijual. Arus keluar ETF yang persisten sering diartikan sebagai berkurangnya selera institusional jangka pendek, yang tentu memukul sentimen.

Ketidakpastian dan Aksi Ambil Untung

Lingkungan yang sudah rapuh ini diperkeruh oleh diskusi online yang kembali menghangat seputar kaitan historis antara Jeffrey Epstein dan inisiatif mata uang digital awal. Meski tidak ada bukti langsung, narasi semacam ini bisa menambah volatilitas di saat pasar sedang limbung.

CEO Galaxi Digital

CEO Galaxy Digital, Mike Novogratz, punya pandangan yang lebih teknis. Ia menyebut penurunan ini terutama didorong aksi profit-taking, bukan panic selling. Menurutnya, investor yang membeli Bitcoin di harga jauh lebih rendah mulai merealisasikan keuntungan setelah aset ini menembus $100.000 sebelumnya. Ia menggambarkannya sebagai “gelombang penjual” alami yang wajar terjadi.

Nah, sekarang ke mana? Para trader kini memusatkan perhatian pada area $76.500 sebagai zona support jangka dekat yang kritis. Jika level ini pecah secara berkelanjutan, pintu menuju level support historis yang lebih rendah akan terbuka. Di sisi lain, pemulihan berkelanjutan membutuhkan perbaikan sentimen makro dan stabilisasi aliran dana ETF. Untuk saat ini, bersiaplah untuk volatilitas yang masih tinggi.

Bitcoin Hyper – Proyek Layer 2 yang Menawarkan Solusi Atas Keterbatasan Bitcoin

Di tengah tekanan pasar, mata beberapa investor justru beralih ke proyek yang menawarkan solusi fundamental. Bitcoin Hyper ($HYPER) hadir dengan misi ambisius: memberikan kecepatan, biaya rendah, dan skalabilitas yang selama ini kurang dari Bitcoin. Ini adalah layer-2 berbasis Solana yang dibangun khusus untuk mendukung ekosistem DeFi, meme coin, dan platform pembayaran generasi baru, semuanya di atas keamanan blockchain Bitcoin.

Bitcoin Hyper

Visi ini rupanya menarik minat yang signifikan. Presale Bitcoin Hyper telah berhasil mengumpulkan dana lebih dari $31,2 juta atau sekitar Rp 523 miliar. Harga token $HYPER saat ini berada di $0,013675. Proyek yang telah diaudit ini menawarkan potensi untuk mengatasi keterbatasan transaksi Bitcoin yang selama ini menjadi kendala.

Bagi Anda yang penasaran dengan potensi jangka panjangnya dan ingin menyimak berbagai prediksi harga Bitcoin Hyper, langkah teraman adalah selalu mengunjungi laman resmi proyek Bitcoin Hyper untuk mendapatkan informasi whitepaper dan roadmap langsung dari sumbernya.

Untuk mengikuti perkembangan tim dan komunitas, jangan lupa ikuti akun X (Twitter) dan Telegram resmi Bitcoin Hyper. Dan jika Anda tertarik untuk berpartisipasi, pastikan Anda mempelajari cara beli Bitcoin Hyper melalui saluran resmi yang mereka sediakan untuk menghindari segala bentuk penipuan.

Disclaimer: Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi ICOBench Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. ICOBench Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.

By Ajira Maheswari

Ajira Maheswari adalah jurnalis dan penulis konten crypto yang fokus pada perkembangan blockchain, DeFi, dan tren altcoin global. Latar belakang pendidikannya di bidang Ekonomi Digital membawanya memahami keterkaitan antara teknologi keuangan dan regulasi di pasar Asia Tenggara. Ajira memulai kariernya sebagai penulis keuangan sebelum beralih sepenuhnya ke sektor aset digital pada tahun 2020. Ia dikenal karena gaya penulisan yang analitis namun mudah dipahami, membuat topik kompleks seperti tokenomics dan analisis pasar lebih ramah bagi pembaca awam. Di CoinSpeaker Indonesia, Ajira rutin menulis artikel prediksi harga, liputan presale token, dan analisis makro ekonomi yang memengaruhi pasar kripto.