Bitcoin Tembus US$ 125.700 (≈ Rp 2 Miliar): Ketika Pasokan di Bursa Menipis, Investor Memasuki Zona Panik

Bitcoin Tembus US$ 125.700 (≈ Rp 2 Miliar)- Ketika Pasokan di Bursa Menipis, Investor Memasuki Zona Panik

Harga Bitcoin (BTC) kembali mendulang rekor tertinggi, menembus angka US$ 125.700, setara Rp 2.078.233.100 (kurs acuan Rp 16.529/USD per 5 Oktober 2025). Angka ini melampaui rekor Agustus 2025 di sekitar US$ 124.500 (≈ Rp 2.057.709.500).

Fokus tak hanya tertuju pada level harga. Data on-chain dan pola perilaku institusional menunjukkan bahwa pasar kini menghadapi kondisi pasokan BTC yang mengering—cadangan di bursa kripto jatuh ke titik terendah selama enam tahun terakhir. Momentum besar ini memicu rangkaian spekulasi, antisipasi, serta rasa takut ketinggalan (FOMO) di kalangan investor.

Lonjakan Awal Oktober: “Uptober” Kembali Memikat

Sepanjang bulan Oktober, Bitcoin menunjukkan tren kenaikan yang konsisten setelah pada awal September sempat menyentuh zona koreksi hingga US$ 107.800 (~Rp 1,78 miliar). Bulan Oktober memang dikenal sebagai periode bullish di kalender kripto, sehingga istilah “Uptober” sering kembali muncul di kalangan trader.

Kenaikan ini ditopang oleh kombinasi likuiditas pasar yang mulai menyusut, ekspektasi atas persetujuan ETF, dan narasi tentang kelangkaan. Perlahan tetapi pasti, tren naik ini mulai mendapat traksi signifikan.

Pakar ETF dan Presiden ETF Store, Nate Geraci, menyampaikan lewat akun X-nya bahwa:

“Bitcoin mencetak rekor harga baru… Tapi sebagian besar orang bahkan belum memahami apa itu Bitcoin.”

 

Pernyataan ini menegaskan bahwa, meskipun pasar telah memasuki fase euforia, adopsi institusional dan ritel kemungkinan masih berada di tahap awal—suatu sinyal bahwa potensi tambahan upside masih terbuka luas.

Baca juga: Cryptocurrency Terbaik 2026 – Daftar Koin Terbaik Untuk Investasi

BTC di Bursa Terjun Bebas: Hanya Tersisa 2,45 Juta Koin

Berdasarkan data Glassnode, cadangan Bitcoin di exchange global menurun drastis menjadi 2,83 juta BTC, sementara laporan dari CryptoQuant menyebut angka lebih rendah lagi, yaitu 2,45 juta BTC—tingkat terendah sejak 2018.

Dalam dua minggu terakhir, lebih dari 114.000 BTC tercatat ditarik dari bursa perdagangan, dengan nilai estimasi melebihi US$ 14 miliar (~Rp 231 triliun). Aliran keluar tersebut sebagian besar mengalir ke dompet pribadi (self custody), cold wallet institusional, dan neraca korporasi besar.

Penurunan cadangan di exchange menjadi tolak ukur likuiditas pasar: semakin sedikit yang tersedia, tekanan ke atas pada harga kian besar. Analogi sederhana: pasar properti dengan sedikit rumah untuk dijual akan mengalami lonjakan harga dengan cepat.

Matthew Sigel, Kepala Riset Aset Digital di VanEck, mengunggah pernyataan:

“Saya dengar beberapa exchange mulai kehabisan Bitcoin… Hari Senin jam 09.30 pagi bisa jadi jadi awal resmi dari kekurangan pasokan Bitcoin.”

 

Investor besar seperti Mike Alfred turut berbicara. Ia mengungkap bahwa salah satu pusat OTC (over-the-counter) memproyeksikan kehabisan BTC dalam hitungan jam setelah pasar futures dibuka—kecuali harga segera menembus US$ 126.000 (~Rp 2,08 miliar).

Baca juga: Daftar Coin Meme Terbaik Untuk Investasi di Tahun 2026

Strategy Inc. Cetak Nilai Rp 1.279 Triliun dari Treasury Bitcoin

Langkah paling nyata dari efek tren pasokan ini terlihat di Strategy Inc., perusahaan publik pertama yang menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari strategi treasury sejak 2020.

Dalam laporan terbaru, aset BTC mereka kini bernilai US$ 77,4 miliar (~Rp 1.279 triliun). Ini berarti investasi awal sebesar US$ 2,1 miliar (2020) telah tumbuh 35× lipat dalam lima tahun.

Strategi agresif mereka dalam melakukan pembelian di kala koreksi (termasuk 2023–2024) mengokohkan posisi Strategy Inc. sebagai pionir dalam pengelolaan aset digital jangka panjang.

Pada aspek perpajakan, IRS baru-baru ini menyatakan bahwa keuntungan yang belum terealisasi dari crypto tidak termasuk dalam cakupan Corporate Alternative Minimum Tax. Dengan demikian, Strategy Inc. bisa menyimpan US$ 28 miliar (≈ Rp 462 triliun) tanpa beban pajak ekstra.

Solusi Skalabilitas Bitcoin: Hadirnya Bitcoin Hyper

Kepadatan transaksi dan kemacetan jaringan utama Bitcoin mendorong kebutuhan mendesak akan solusi layer tambahan. Di sinilah proyek Bitcoin Hyper muncul sebagai katalis inovasi.

Solusi Skalabilitas Bitcoin: Hadirnya Bitcoin Hyper

Proyek ini membangun Layer 2 berbasis Solana Virtual Machine (SVM) di atas jaringan Bitcoin, memungkinkan transfer BTC hampir instan, biaya transaksi minimal, serta kompatibilitas penuh dengan aplikasi DeFi dan sistem pembayaran korporat.

Cara Kerja Bitcoin Hyper

Menggunakan sistem bridge bernama Canonical Bridge, pengguna mengirim BTC ke alamat khusus. Setelah kontrak pintar di jaringan validator memverifikasi, pengguna mendapat token setara di jaringan Bitcoin Hyper.

Hasilnya: keamanan tetap bersandar pada Bitcoin asli, namun efisiensi operasional mirip dengan jaringan berkecepatan tinggi.

Teknologi Zero-Knowledge Proof (ZK Proof) memampatkan data transaksi agar tercatat efisien dan disinkronkan secara berkala ke mainnet Bitcoin. Saat pengguna menarik kembali, sistem memverifikasi dan mengembalikan BTC ke jaringan utama secara aman dan trustless.

Bitcoin Hyper menawarkan jawaban atas keluhan utama ekosistem Bitcoin: lambat dan mahal. Dengan solusi ini, ia menghadirkan jalur transaksi cepat dan ekonomis.

Roadmap dan Visi Jangka Panjang

Tim pengembang Bitcoin Hyper telah menyelesaikan beberapa tahapan awal seperti: penyediaan tool untuk developer, riset sequencing transaksi, dan arsitektur eksekusi layer untuk komputasi tinggi.

Tahapan berikutnya mencakup integrasi blockchain explorer, aplikasi native berbasis SVM, dan ekosistem developer untuk membangun dApps. Target jangka panjangnya: menjadi Layer 2 utama di atas Bitcoin, layaknya Solana di ranah Web3.

Baca juga: Koin Micin Potensial untuk Dibeli pada Tahun 2026 – Daftar Koin Micin Terbaru

Presale Token $HYPER: Harga Awal & Potensi

Harga presale saat ini berada di US$ 0,013055 (≈ Rp 216). Hingga kini, proyek telah mengumpulkan dana lebih dari US$ 21,45 juta (~Rp 356,6 miliar), mendekati hard cap di US$ 21,62 juta.

Skema presale menggunakan price ladder, di mana harga naik secara bertahap ketika cap tertentu tercapai. Waktu yang tersisa kini kurang dari 10 jam menjelang tahapan harga berikutnya.

Beberapa investor melakukan pembelian lebih dari US$ 1.000 (Rp 16,5 juta) dalam satu transaksi, menunjukkan kepercayaan tinggi atas potensi token ini.

Cara Ikut Presale dan Imbal Hasil Staking

Langkah bergabung sangat mudah:

  1. Siapkan aset kripto seperti ETH, SOL, BNB, atau USDT
  2. Gunakan wallet seperti MetaMask atau Best Wallet
  3. Hubungkan wallet ke situs resmi Bitcoin Hyper
  4. Pilih jumlah token yang diinginkan
  5. Konfirmasi dan selesaikan transaksi

Token akan diklaim di jaringan Solana (jika membeli lewat SOL) atau Ethereum (jika menggunakan ETH, BNB, atau kartu kredit). Jembatan lintas-chain memudahkan transfer antar jaringan.

Staking $HYPER memberi reward 199,77 token per blok ETH, dengan estimasi APY hingga 55%. Saat ini, total token yang telah distake mencapai 956 juta $HYPER, menunjukkan komitmen jangka panjang dari investor.

Distribusi token $HYPER dibagi menjadi:

  • 30% pengembangan
  • 25% treasury & komunitas
  • 20% pemasaran
  • 15% reward & staking
  • 10% listing exchange

Model ini dirancang agar pertumbuhan ekosistem dan keuntungan holder tetap seimbang.

Apakah Bitcoin Hyper Siap Meledak Setelah Listing?

Momentum Uptober, tekanan kelangkaan BTC di bursa, dan inovasi Layer 2 menjadikan $HYPER sorotan baru. Teknologi efisien, staking menarik, dan narasi kelangkaan bersama potensi listing mendorong antisipasi bahwa proyek ini bisa mencetak reli impresif.

Presale $HYPER saat ini menjadi pintu masuk murah bagi investor yang ingin memposisikan diri sebelum listing publik. Harga masih rendah, dan mekanisme price ladder berarti harga akan segera bergerak naik. Reward staking juga tinggi, sementara teknologi yang ditawarkan punya utilitas nyata.

Jangan sampai kesempatan ini terlewat. Setelah Bitcoin dan Ethereum sukses, Bitcoin Hyper bisa menjadi momen emas berikutnya.

Dari BTC Rp 2 Miliar ke Peluang Bitcoin Hyper

Kenaikan Bitcoin menembus angka Rp 2 miliar memberi sinyal bahwa pasar tengah memasuki fase euforia dengan pasokan yang makin terbatas. Penurunan signifikan cadangan BTC di exchange memperkuat narasi kelangkaan yang mendorong tekanan beli.

Proyek yang menawarkan skalabilitas tinggi dan efisiensi seperti Bitcoin Hyper kini berada di garis depan. Arsitektur Layer 2 ini bukan hanya menjawab persoalan klasik seperti kecepatan dan biaya transaksi, tapi juga membuka peluang pengembangan aplikatif di ekosistem Bitcoin.

Presale $HYPER menjadi momentum awal yang patut diperhitungkan. Harga masih terjangkau, dan tekanan beli bisa meningkat cepat. Dengan staking yang agresif dan dukungan teknologi terkini, tekanan untuk masuk lebih awal sangat nyata.

Disclaimer: Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi ICOBench Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. ICOBench Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.

 

By Astari Nurani

Astari Nurani adalah kontributor CoinSpeaker Indonesia yang memiliki minat besar pada inovasi Web3 dan NFT. Lulus dari jurusan Komunikasi Massa, Astari menggabungkan kemampuan storytelling dengan data pasar untuk menciptakan artikel yang informatif dan menarik. Ia memulai penulisan tentang crypto pada 2019, tepat saat gelombang DeFi pertama mulai berkembang. Pengalamannya bekerja sama dengan berbagai komunitas blockchain di Asia membuat Astari memahami dinamika investor ritel di Indonesia. Ia sering menyoroti potensi proyek-proyek baru, sekaligus memberikan panduan investasi yang berbasis riset, sehingga pembaca mendapatkan perspektif yang lebih terarah sebelum mengambil keputusan.