Bitcoin Turun ke $76K, Kapitulasi atau Awal Koreksi Baru?

Bitcoin

Bagaimana reaksi Anda saat lihat pergerakan Bitcoin akhir pekan lalu? Aset kripto nomor satu itu sempat meluncur tajam dan kini berada di level $76,000 atau sekitar Rp1,27 miliar. Bagi Anda yang sudah hold dari level tinggi, momen ini pasti menegangkan. Namun, di balik awan gelap, ada seberkas harapan dari seorang analis terkenal, PlanC.

Dalam postingan di X pada Sabtu, dia menyatakan bahwa penurunan ini berpotensi menandai pullback terdalam atau titik terendah siklus dari fase bull market yang sedang kita jalani. Artinya, ini bisa jadi momen ‘cuci gudang’ terakhir sebelum Bitcoin kembali melanjutkan tren naiknya. Tapi benarkah demikian? Atau justru ini awal dari koreksi yang lebih dalam? Mari kita bedah.

Momen Kapitulasi atau Awal Bear Market?

Analis PlanC cukup vokal dengan pandangannya. Dia melihat ada “peluang yang cukup baik” bahwa penurunan ke $77,000 ini lebih mencerminkan sebuah capitulation-style low. Apa itu? Ini adalah kondisi di mana para investor yang panik akhirnya menyerah dan melepas asetnya di harga terendah, sebuah tanda klasik bahwa penjualan sudah jenuh dan pasar siap untuk pulih.

Data dari CoinMarketCap menunjukkan, Bitcoin benar-benar menyentuh level $76,000 atau Rp 1,27 miliar. Meski ada pemulihan kecil, secara teknis Bitcoin masih terpangkas lebih dari 10.7% dalam sebulan terakhir dan sekitar 29.8% dari rekor tertingginya di $126,100 (Rp 2,11 triliun) pada Oktober lalu.

Harga Bitcoin hari ini

PlanC lalu membandingkan situasi ini dengan beberapa momen capitulation bersejarah yang justru diikuti rally besar:

  • Akhir 2018: Bitcoin menemukan dasar di sekitar $3,000 setelah bear market panjang.
  • Maret 2020: Crash akibat COVID-19 membawa harga ke sekitar $5,100.
  • Akhir 2022: Runtuhnya Terra-Luna dan FTX mendorong BTC ke kisaran $15,500–$17,500.

“Kemungkinan besar kita sedang mengalami capitulation low besar lainnya saat ini,” tulis PlanC. Dia memperkirakan area dasar siklus ini berada di antara $76,000 dan $80,000 (sekitar Rp 1,26 – 1,34 miliar). Intinya, sell-off ini mungkin hanya ‘pembersihan’ akhir, bukan perubahan struktural dari tren bull jangka panjang.

Peringatan dari Pihak Lain – Jangan Terlalu Cepat Percaya

Tentu, tak semua analis sepakat. Banyak suara yang mengingatkan untuk tetap hati-hati. Rajat Soni, seorang advokat Bitcoin, menekankan bahwa penurunan terjadi di akhir pekan saat likuiditas pasar tipis dan pergerakan bisa sangat berlebihan.

PlanC - X

“Jangan pernah percaya pada pump atau dump di akhir pekan,” katanya. Pesannya jelas, jangan mengambil keputusan investasi besar hanya berdasarkan gejolak jangka pendek.

Dan memang, beberapa nama besar punya pandangan lebih konservatif. Trader veteran Peter Brandt pernah menyebut kemungkinan Bitcoin bisa menyentuh $60,000 (sekitar Rp 1 triliun) pada kuartal ketiga 2026. Sementara itu, analis Benjamin Cowen memperkirakan titik terendah siklus baru akan datang pada akhir tahun ini, mungkin sekitar Oktober, meski akan diselingi beberapa relief rally terlebih dahulu.

Jurrien Timmer dari Fidelity Investments bahkan menyebut 2026 bisa menjadi “tahun jeda” untuk Bitcoin, dengan harga berpotensi mengunjungi kembali kisaran pertengahan $60,000-an sebelum pemulihan yang lebih kuat benar-benar dimulai.

Apa Pemicu Tekanan Jual terhadap Bitcoin?

Lalu, apa akar masalahnya? Kenapa cryptocurrency terbaik ini bisa jatuh lagi di bawah $89,000 setelah sempat rebound? Tekanan datang dari dua sisi: kebijakan bank sentral dan geopolitik.

Menurut Samer Hasn, analis dari XS.com, sikap Federal Reserve (The Fed) yang masih netral hingga cenderung hawkish (tidak buru-buru turunkan suku bunga), ditambah ketegangan di Timur Tengah, telah mengurangi minat terhadap investasi berisiko tinggi seperti kripto.

Bitcoin Open Interest

Data pasar pun mengkonfirmasi lemahnya keyakinan trader. Data dari CoinGlass menunjukkan open interest futures kripto turun 42% dari rekor tertingginya. Setiap upaya breakout kecil segera dihadang oleh aksi jual yang agresif.

Di saat yang sama, modal mengalir ke aset safe-haven tradisional seperti emas dan perak. Aset digital seperti Bitcoin pun kesulitan menarik aliran dana segar di tengah volatilitas tinggi yang terus berlanjut.

Dengan sinyal dari Ketua The Fed Jerome Powell yang tidak terburu-buru memotong suku bunga, serta risiko geopolitik yang mendorong investor ke aset berwujud, Bitcoin masih dianggap sebagai aset berisiko tinggi. Sentimen baru akan membaik jika kebijakan moneter mulai melonggar atau ketegangan global mereda.

Bitcoin Hyper – Menyiapkan Strategi Cadangan di Saat Harga Bitcoin Bergejolak

Nah, di tengah semua ketidakpastian soal prediksi harga Bitcoin ini, tak ada salahnya kita lirik proyek lain yang punya narasi teknologi kuat untuk diversifikasi. Salah satunya Bitcoin Hyper ($HYPER), yang fokus bikin solusi Layer-2 untuk Bitcoin. Tujuannya jelas, bikin Bitcoin lebih cepat dan murah buat transaksi, tanpa ganggu keamanan intinya.

Bitcoin Hyper

Yang menarik, ternyata banyak yang percaya sama visi ini. Presale mereka sudah berhasil kumpulkan lebih dari $31,1 juta atau sekitar Rp 521 miliar, angka yang nggak main-main. Ini bukti ada komunitas yang solid di belakangnya. Buat Anda yang penasaran dan mau coba eksplor, cara beli Bitcoin Hyper itu gampang. Pertama, kunjungi laman resmi Bitcoin Hyper.

Di sana, Anda bisa beli token $HYPER di harga presale $0.013675. Tapi ingat, jangan langsung all-in. Lakukan riset dulu (DYOR), baca whitepaper-nya, dan pantau perkembangannya lewat akun X (Twitter) dan Telegram resmi mereka. Selalu ambil informasi dari laman resmi proyek. Investasi di presale memang berisiko tinggi dan prediksi harga Bitcoin Hyper masih spekulatif, tapi di tengah gejolak harga Bitcoin utama, proyek yang fokus pada solusi teknis seperti ini bisa jadi pilihan untuk long-term watchlist.

Disclaimer: Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi ICOBench Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. ICOBench Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.

By sulastri

Sulastri adalah penulis konten crypto dan Web3 yang telah aktif sebagai investor sejak 2017. Berbekal pengalaman dan pemahaman mendalam terhadap teknologi blockchain, ia membantu proyek-proyek kripto membangun narasi yang kuat, relevan, dan mudah dicerna. Gaya tulisannya memadukan riset teknis dengan sentuhan humanis, menjadikan topik kompleks terasa dekat dan engaging bagi semua kalangan dari pemula hingga pelaku industri Web3.