Prediksi harga Bitcoin kembali menjadi topik hangat setelah BTC merosot ke bawah $92.000, dipicu ketegangan perdagangan global yang memanas. Penurunan enam hari berturut-turut ini diperparah oleh ancaman tarif baru dari Presiden Trump terhadap negara-negara Eropa, mendorong investor beralih ke aset tradisional dan memicu likuidasi besar-besaran di pasar kripto.
Tekanan jual kian intensif dengan RSI yang melemah di bawah 50, sementara likuidasi mencapai lebih dari $865 juta pada Senin. Kesalahan migrasi basis data di DEX Paradex yang sempat menampilkan harga BTC nol turut menambah kepanikan. Kini pasar menanti, apakah support akan terbentuk atau tren turun terus berlanjut.
Mengapa Bitcoin Anjlok di Bawah $92.000?
Meski sempat menguat hingga mendekati level $98.000 pada pekan lalu, Bitcoin kembali tergelincir di bawah $92.000 akibat ketidakpastian perdagangan global yang meningkat.
Faktor utama di balik koreksi tajam ini adalah ancaman Presiden Donald Trump untuk mengenakan tarif punitif terhadap Greenland dan sejumlah negara sekutu Uni Eropa, yang langsung memicu sentimen risk-off di pasar keuangan.

Ketegangan perdagangan global berdampak negatif terhadap pasar kripto karena mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi seperti Bitcoin.
Dalam kondisi seperti ini, prediksi harga Bitcoin cenderung bergeser ke arah bearish seiring meningkatnya kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan kondisi finansial yang semakin ketat.
Farzam Ehsani, CEO platform perdagangan kripto VALR, menyatakan dalam diskusi terbaru bahwa secara historis, ancaman tarif dan tindakan balasan menciptakan hambatan signifikan bagi aset digital dan aset berisiko lainnya.
Pasar kini memperhitungkan kemungkinan eskalasi berkepanjangan yang dapat mengganggu perjanjian perdagangan sebelumnya, menegangkan hubungan internasional, dan memberikan tekanan lebih lanjut pada aset berisiko.
Ketidakpastian yang meningkat membuat posisi leverage di pasar kripto menjadi sangat rentan. Kondisi ini sering kali memicu likuidasi besar-besaran pada posisi long yang mempercepat pergerakan harga ke arah bawah, sebagaimana tercatat dalam data likuidasi yang mencapai lebih dari $865 juta pada hari Senin.
Kombinasi faktor makroekonomi dan tekanan teknikal ini menciptakan lingkungan yang menantang bagi pemulihan jangka pendek cryptocurrency terbaik ini.
Likuidasi Posisi Long Picu Volatilitas Bitcoin
Bitcoin mengalami guncangan likuidasi masif pada hari Senin, di mana leverage berlebih senilai $865 juta tersapu bersih dari pasar.
Sebagian besar likuidasi ini berasal dari investor bullish, baik yang menggunakan leverage maupun tidak, yang sebelumnya berspekulasi pada kelanjutan tren kenaikan harga dari pekan lalu.
Sejak 15 Januari, kapitalisasi pasar Bitcoin telah menyusut sebesar $140 miliar, menempatkannya pada posisi $1,81 triliun, sementara total kapitalisasi pasar kripto merosot ke kisaran $3,2 triliun.

Gelombang likuidasi dan revisi prediksi harga Bitcoin yang cenderung bearish ini terutama didorong oleh reaksi pasar kripto terhadap kembalinya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang menciptakan sentimen negatif di kalangan pelaku pasar global.
Namun, volatilitas ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor fundamental. Kesalahan teknis pada bursa terdesentralisasi (DEX) berbasis Starknet, Paradex, turut memicu likuidasi massal yang tak terduga.
Glitch sistem menciptakan anomali harga sesaat yang membuat Bitcoin tampak “gratis”, memaksa tim pengembang merencanakan rollback pada blockchain.
Meskipun pihak bursa belum merilis data resmi mengenai jumlah pedagang yang terdampak atau total nilai kerugian yang terjadi, insiden ini menambah ketidakpastian pasar. Clement Ho, kepala teknik Paradex, menjelaskan dalam pesannya kepada pengguna bahwa langkah rollback akan mengembalikan platform ke versi stabil terakhir sebelum gangguan terjadi, sebagai upaya memitigasi dampak kerugian bagi pengguna.
Prediksi Harga Bitcoin: Apakah BTC akan Bangkit atau Terkoreksi Tajam?
Bitcoin saat ini diperdagangkan di level $90.878, mencatatkan penurunan sebesar 1,96% dalam 24 jam terakhir. Aset kripto terbesar ini sebelumnya berjuang mempertahankan level support di $92.000, namun setelah upaya singkat untuk bertahan, harga kembali tergelincir di bawah $91.000.
Kondisi ini membuat prediksi harga Bitcoin jangka pendek semakin bergantung pada kemampuan pasar mempertahankan level psikologis $90.000, setelah gagal menembus resistance di atas $98.000.

Titik support $90.000 kini bertepatan dengan Moving Average (MA) 50-hari, indikator teknikal yang sebelumnya berfungsi sebagai landasan kuat saat pemulihan harga di pekan kedua.
Jika level ini gagal dipertahankan, tekanan jual lanjutan mungkin tak terelakkan. Namun, ada satu anomali menarik yang patut dicermati: penurunan harga kali ini disertai dengan volume yang menipis.
Hal ini mengindikasikan bahwa pelemahan lebih disebabkan oleh absennya pembeli baru, bukan karena lonjakan tekanan jual yang masif.
Kelemahan tren yang ditandai dengan volume rendah ini justru membuka peluang rebound tajam jika pembeli yang memanfaatkan koreksi harga (dip buyers) kembali masuk ke pasar. Meski aksi harga saat ini mencerminkan volatilitas tinggi akibat ketegangan perdagangan dan ketidakpastian makroekonomi, fase bearish tampaknya sudah terlalu berlarut-larut.
Sejumlah pakar pasar melihat adanya potensi pullback ke sisi bullish atau pemulihan harga begitu hambatan-hambatan eksternal ini mereda, mengingat fundamental aset yang masih cukup solid.
Bitcoin Hyper (HYPER): Alternatif Menjanjikan di Tengah Volatilitas Bitcoin
Di saat prediksi harga Bitcoin masih dibayangi ketidakpastian pasar dan upaya mempertahankan level krusial $90.000, perhatian sebagian investor mulai beralih ke coin crypto terbaru inovatif. Salah satu yang paling menonjol adalah Bitcoin Hyper (HYPER), sebuah solusi Layer-2 yang dirancang untuk menghadirkan kecepatan dan efisiensi ke jaringan Bitcoin.

Di tengah koreksi harga BTC, Bitcoin Hyper justru mencatatkan performa presale yang mengesankan dengan total dana terkumpul menembus angka $30,8 juta (sekitar Rp520 miliar). Saat ini, token HYPER ditawarkan di harga $0,013605, memberikan titik masuk yang menarik bagi investor yang mencari diversifikasi.
Tak hanya itu, proyek ini menawarkan insentif staking dengan APY (Annual Percentage Yield) yang kompetitif di angka 38%, menarik minat pemegang jangka panjang untuk mengunci aset mereka sembari menunggu pengembangan jaringan.
Kombinasi antara teknologi yang memperkuat utilitas Bitcoin dan insentif finansial yang kuat membuat Bitcoin Hyper dipandang sebagai “lindung nilai” strategis.
Ketika prediksi harga Bitcoin utama masih mencari arah pemulihan, pertumbuhan ekosistem pendukung seperti HYPER menawarkan narasi pertumbuhan yang tetap solid dan terpisah dari sentimen makro jangka pendek.
Siap untuk bergabung dengan presale HYPER? Pastikan untuk membaca artikel kami mengenai prediksi harga Bitcoin Hyper dan cara beli Bitcoin Hyper.
Disclaimer: Pendapat dan pandangan yang diungkapkan dalam postingan ini tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi ICOBench Indonesia. Informasi yang disediakan dalam postingan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau profesional. ICOBench Indonesia tidak mendukung produk, layanan, atau perusahaan tertentu yang disebutkan dalam postingan ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri dan berkonsultasi dengan profesional yang berkualifikasi sebelum mengambil keputusan keuangan apa pun. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang Anda siap kehilangan.
